Arsip untuk Juni, 2008

Menerima Kenyataan

20 Juni, 2008

Saat pertama kali aku mendengar kabar tersebut dari ibu, air mata ini tak dapat berhenti menetes. Sampai saat ini pun bila aku ingat, masih berkaca-kaca. Awal bulan Mei yang lalu di sabtu pagi itu, ibu mengabarkan bahwa bapak telah didiagnosa kanker hati. Dokter yang juga masih saudara kami mengatakan bahwa keadaannya bisa terjadi dengan sangat cepat. Dalam 4 sampai 6 bulan, keadaan bapak bisa menjadi sangat memburuk. ”Bapak di senang-senangkan. Berikan yang terbaik” kata-katanya masih terngiang di kepalaku.

Selama ini bapak tidak pernah mengeluh sakit ini dan itu. Sampai awal bulan April, bapak mulai sering diare, yang sulit untuk berhentinya. Walau akhirnya diare bapak berhenti persis sebelum bapak dan ibu berangkat ke Surabaya, untuk menghadiri pernikahan sepupuku, berat badan bapak sudah merosot banyak. Bapak tetap berkeras ingin berangkat walau masih lemah, ingin bertemu dengan cucu di sana dan ndak enak bila tidak datang. Karena keluarga om-tanteku datang ke pernikahanku di Semarang di bulan Februari yang lalu. Sesampainya di sana, ibu mengabarkan bapak terlihat lemah dan lebih banyak berbaring di tempat tidur, tidak mengerjakan ini dan itu seperti biasanya bila datang ke rumah di Surabaya. Setelah datang ke adik ibu yang juga dokter, kemudian dianjurkan untuk periksa lab dan usg. Hasilnya sungguh memukul kami semua. Rasanya tak ingin ku percaya kenyataan yang pahit ini. Ku tahu dosaku begitu banyak, tetapi mengapa harus bapak dan keluarga kami yang menanggung semuanya.

Air mataku terus meleleh pagi itu. Astri memelukku dan menanyakan apakah aku perlu segera menyusul ibu-bapak ke Surabaya. ”Tidak perlu,” jawabku, ”Ibu-bapak akan pulang hari Senin.” Bapak menolak keinginan ibu naik pesawat agar bapak tidak terlalu kelelahan. ”Aku masih kuat naik kereta.” kata ibu menirukan bapak waktu itu.

Rasanya dunia ini tidak adil. Kedekatanku dengan bapak memang tidak seindah cerita dalam novel anak lelaki dan bapaknya. Sering kali hubungan kami diwarnai perbedaan pendapat. Alasanku selalu karena kami berbeda generasi. Yang bila kurenungkan lagi, sebenarnya karena aku sangat mirip dengan bapak. Sama-sama keras kepala singkatnya. Entah kenapa aku sulit menghentikan air mataku saat itu. Mungkin karena aku menyesali kualitas hubungan kami selama ini, mungkin juga karena ego ku yang tak ingin kehilangan diriya. Yang ku tahu pasti, berita itu telah mengiris hati dan mata ku. Keduanya terus meneteskan kesedihan.

Ibu menerimanya kenyataan ini tanpa berkomentar apapun. Kesediahan nampak di raut wajahnya. Mata yang terkadang berkaca-kaca menahan jatuhnya air mata.

Bapak seperti biasanya tidak banyak bicara. Hanya terdiam. Bagi bapak yang terpenting tidak pernah ingin menyusahkan anak-istrinya. Dia tak ingin menjadi beban bagi kami.

Bagaimana ku dapat menerima kenyataan ini bila terbayang bagaimana perjalanan penyakit yang akan bapak alami. Nyeri yang berkepanjangan, diare, lemah, mata yang menguning, dan mungkin juga muntah / buang air besar darah. Hal terburuk selalu menghantuiku. Ku cari jawabnya diantara sholat dan doa ku. Ya Alloh, bagaimana caraku untuk dapat menerima semua ini.

Ku coba mendengarkan kulai subuh di radio saat berangkat ke kantor. Dari AA Gym dan Ustad Miftah menyebutkan bahwa setiap cobaan itu adalah episode dalam hidup. Sebuah musibah adalah cobaan yang berat dari Nya. Bagaimana kita tetap teguh iman dalam musibah itu, akan menjadi catatan kenaikan tingkat keimanan dan ketakwaan kita.Tetapi bila diberikan berkah, maka itu adalah cobaan yang lebih berat lagi. Karena manusia lebih sering lupa akan keimanannya saat berbahagia dengan berkah dari Nya. Dan kita sebagai manusia, lebih sering tidak lulus ujian saat diberikan berkah tersebut.

Koreksi diriku bila kurang tepat mencerna kutbah mereka. Bila ujian itu berupa sakit, dikatakan juga sebagai salah satu cara untuk meluruhkan dosa dan kesalahan kita. Bapak seperti manusia lainnya, pasti tidak luput dari kesalahan dan dosa. Mungkin ini memang rencana Alloh untuk meluruhkan dosa bapak, terlepas besar ataupun kecil, sehingga bila saatnya tiba bapak akan menghadap Alloh dengan catatan dosa yang sudah terhapuskan. Itu menjadi penghiburku untuk menerima kenyataan ini.

Mungkin ini juga peringatan dari Alloh agar kami sekeluarga lebih baik lagi dalam beribadah. Mungkin sholat kami masih kurang khusyuk, amal kami masih kurang, ataupun kesalahan-kesalahan lainnya yang bial dituliskan tidak akan selesai-selesai. Alhamdulillah, kami masih diingatkan oleh-Nya.

Setiap doa ku, aku terus berharap agar Alloh memberikan bapak kemudahan untuk mendapatkan kesembuhan dan diberikan yang terbaik.

Dan Alloh pun memberikan yang terbaik.

Test

20 Juni, 2008

Percobaan