Arsip untuk Juli, 2008

Berusaha-Berharap-Berdoa-Bersiap Untuk Yang Terbaik

4 Juli, 2008

Saat aku menemani Bapak CT scan, aku berharap agar apa yang di dapat saat USG salah. Tak ada kanker, tak ada sirosis pada hatinya. Yang kami dapatkan adalah kanker yang hampir 75% dari hati dan sisanya hampir semuanya sirosis. Dokter mengatakan tak ada pilihan terapi lagi karena besarnya kanker dan tingginya SGOT-SGPT. Diusahakan agar SGOT-SGPT nya turun dahulu, baru dipikirkan rencana terapi untuk kankernya. Oleh karena itu Bapak harus One Day Care (ODC) dahulu, seminggu dua kali. Saat dokter mengatakan hal itu, hanya kami berdua. Ibu dan Bapak diminta menunggu di luar.

”Kok pake rahasia-rahasiaan? Kenapa, aku sudah mau mati ya?” tanya Bapak. ”Tidak pak, tadi dokternya menjelaskan bahwa Bapak harus ODC dulu baru diterapi kankernya.” jawabku dengan senyum yang aku usahakan tanpa mata yang berkaca-kaca. Pertanyaan yang aku yakin sering ditanyakan oleh mereka yang didiagnosa kanker. Jawaban yang terbaik? Menurutku adalah jawaban yang membangkitkan semangat, baik untuk mereka penderita, maupun keluarganya. Ada saatnya kita sebagai anak atau anggota keluarga harus mengambil tanggung jawab sebagai orang yang tangguh untuk mereka. Atau paling tidak yang terlihat tangguh.

Bila kedokteran modern sudah tidak memberikan harapan, pengobatan alternatif dapat dicoba. Tentu saja selama tidak berbau musyrik, setiap usaha untuk mendapatkan kesembuhan dari Alloh memiliki jalan yang berbeda-beda.

Harapannya agar pengobatan alternatif ini dapat membawa kesembuhan. Tidak terlalu muluk bila setiap usaha yang kita jalani, berharap mendapatkan hasil yang terbaik pula. Dan dalam kasus ini, kami berharap Bapak diberikan kesembuhan.

Berdoa jangan dilupakan. Sudah sifat manusia sepertinya, saat kita sedang ditimpa kesulitan, tiba-tiba saja rindu akan dekat dengan Sang Pencipta begitu besar. Tetapi bila sedang diberikan kesenangan, kita sering lupa kepada-Nya. Dari yag pernah aku dengar dari penceramah di kuliah subuh, Rasululloh lebih takut bila kita tidak lulus ujian berupa cobaan saat diberikan berkah, bukan saat diberikan musibah. Karena saat kita mendapatkan berkah, apakah kita ingat bahwa berkah dari-Nya itu juga adalah cobaan? Dan apakah kita dapat lulus dari ujian tersebut dengan menjaga amanahnya? Kalau aku berkaca, aku sering gagal saat diberikan ujian ini.

Mungkin dengan cobaan ini, Alloh mengharapkan agar kami lebih dekat dengan-Nya. Aku, ibu, dan mbakku harus lebih kuat dan khusyuk lagi dalam sholat dan doa kami. Juga jangan dilupakan untuk membantu Bapak melewati masa-masa ini dengan sholat dan doa yang lebih baik lagi. Pertanyaan ”Mengapa saya?” mungkin pernah Bapak tanyakan dalam hatinya. Kita harus membantu mereka yang kita cintai melewati pertanyaan itu dengan lebih mendekat kepada-Nya. Kembalikan bahagia dan sedihmu kepada Alloh.

Setelah berdoa, berusaha, dan berharap yang terbaik, tibalah pada tahapan yang tidak kalah pentingnya. Bersiap untuk yang terbaik. Pengertian yang terbaik mungkin berbeda antara kita dan Sang Pencipta dan Pemilik hidup ini. Kita pasti siap dengan kesembuhan. Karena itu pasti yang kita harapkan. Bagaimana kalau definisi yang terbaik itu benar-benar berbeda? Siapkah kita? Atau malah kita yang akan bertanya, ”Mengapa saya?”

Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik. Siapakah kita yang berani menentukan mana yang lebih baik selain dari kehendak-Nya? Siapakah kita bila berani mengatakan bahwa keputusan-Nya tidak adil untuk kita, saat kita berhadapan dengan Sang Maha Adil? Kita tak tahu apa adil itu, apa yang terbaik, karena kita hanya melihat dari sudut pandang kita. Saat Bapak mulai sakit, aku mencoba membayangkan bagaimana bila yang terbaik untuk Bapak adalah kembali kepada-Nya. Sedih dan air mata pasti terjadi, tetapi saat yang terbaik itu benar-benar terjadi, kita sudah lebih tegar. Karena kita sadar bahwa itu adalah memang yang terbaik untuk mereka yang kita cintai.

Dan Alloh memang memberikan yang terbaik untuk Bapak…

Ikhtiar

3 Juli, 2008

”Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan”

”Sempurnakan ibadah dan ikhtiar mu dan pasrahkan takdirmu pada-Nya”

Kira-kira itulah yang pernah aku dengar dari kuliah subuh selama ini.

Rasululloh yakin bahwa tak ada sehelai rambut beliau yang dapat jatuh tanpa restu dari Alloh. Tetapi saat berperang, beliau tetap memberikan ikhtiar yang terbaik dengan menggunakan baju perang 2 lapis. Ikhtiar sesempurna mungkin, baru kita pasrahkan hasilnya pada Alloh.

Saat dokter telah memvonis diagnosanya kepada Bapak, rasanya hancur semua harapan. Dari hasil laboratorium, USG, sampai CT Scan. Setiap memulai pemeriksaan aku berharap ada kesalahan dari pemeriksaan sebelumnya dan keajaiban itu datang. Tetapi hasil pemeriksaan itu selalu mendukung satu dan lainnya. Hasilnya tetap pada diagnosa awal.

Dokterpun sudah angkat tangan. Harapannya hanya 4-6 bulan paling lama. Hanya anjuran One Day Care saja untuk memperbaiki kondisi Bapak. Hal ini kami jalani. Tetapi tidak menutup niat dan usaha kami untuk mencari pengobatan lainnya. Pengobatan alternatif. Ku coba menghubungi mereka yang aku kenal untuk mengetahui bila ada referensi pengobatan alternatif. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan pengobatan alternatif di daerah Bekasi. Modelnya adalah doa dan herbal.

Sepupuku pun memberikan pengobatan alternatif dengan Habbatussauda (jinten hitam / Nigella sativa) dan sari kurma. ”Sesungguhnya di dalam Habbatussauda terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian” {Shohih HR Bukhori, no. 5688; Fathul Baari, X/143; dan Muslim, no. 2215}” begitu aku baca dari literatur-literatur.

Aku tak akan menyerah, bapak tak boleh menyerah, kami tak boleh menyerah. Selama takdir Alloh belum datang, ikhtiar terbaik harus kami lakukan untuk kesembuhan Bapak.

Yakinlah bahwa tak ada satu orang dokter pun atau pengobatan alternatif di seluruh dunia ini yang dapat mengobati penyakit yang paling gampang pun kecuali atas ijin Alloh. Selama kita yakin bahwa yang Maha Menyembuhkan adalah Alloh, semua cara dan jalan penyembuhan yang Dia restui (tentu saja bukan yang berbau musyrik) harus kita coba…

 

Sempurnakan ikhtiar, takdir di tangan Alloh…

Senyuman

3 Juli, 2008

Senyummu akan membuat orang lain bahagia. Oleh karena itu, selalulah tersenyum.

Jujur saja, bila tidak ditarik lebar-lebar otot-otot wajah ini, senyum itu tidak dapat terbentuk. Bila difoto, aku pun sering terlihat manyun, tidak tersenyum. Aku menyalahkan bentuk tengkorak dan otot ku yang dari sananya. Tetapi sebenarnya karena memang aku tidak berusaha untuk itu.

Tetapi di saat-saat seperti ini, senyuman itu sangat berarti untuk membuat mereka yang kita cintai tidak melihat kesedihan kita dan untuk menumbuhkan semangat pada diri mereka.

Sejak mengetahui diagnosa Bapak, sudah aku tekadkan pantang untuk meneteskan air mata di depannya. Bapak harus tetap bersemangat dan untuk itupun aku harus terlihat bersemangat. Senyuman pun akan membawa kebahagiaan kepadanya. Apalagi yang dapat kita berikan kepada mereka yang kita cintai dengan gratis tetapi memberikan efek yang paling dhasyat selain ”Senyuman”.

Harapanku, dengan senyuman itu, rasa sakit yang Bapak rasakan akan dapat dikurangi. Paling tidak, akan membuat dia jadi lebih bahagia…

Permintaan Maaf

3 Juli, 2008

Sejak pertama mendengar diagnosa bapak, bagitu banyak hal yang terpikirkan oleh ku. Apa saja yang belum pernah aku lakukan bersamanya, apa saja kesalahanku selama ini, dan sikapku selama ini kepadanya. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku memiliki hubungan yang sangat akrab dengan dirinya. Karena memang hubungan kami tidak pernah seakrab cerita dalam sinetron. Bapak orang yang tegas dan keras. Dan aku pun memiliki watak yang kurang lebih sama, sehingga dapat dibayangkan seringnya kami beradu argumentasi bahkan mengenai hal-hal yang kecil sekalipun. Dibalik itu semua, aku mengerti sekali bahwa bapak sangat mencintai keluarganya termasuk diriku. Akupun mencintai bapak,walau kadang kala aku menunjukkannya dengan cara yang lain.

Banyak rasanya salahku kepada bapak. Dari aku belum dapat memenuhi harapannya, seringnya aku melanggar nasihatnya, belum dapat ku balas jasanya, dan bahkan seringnya aku lebih memilih menonton film di kamar dari pada duduk di depan tivi bersamanya. Saat ini semua itu sudah tidak berarti.

Bila ku ingat, saat bapak mulai terlihat sakit di bulan Mei, keinginan utntuk meminta maaf kepada beliau selalu menghantuiku. Kata maaf itu sulit diucapkan tanpa meneteskan air mata. Sedangkan air mata itu yang tak ingin aku tunjukkan di depannya. Aku tak ingin ia melihat kami seperti tak ikhlas dengan cobaan dari Alloh.

Setelah sholat berjamaah dengan Bapak, ku kumpulkan semua tekad untuk mengatakannya. Sulit menahan air mata ini untuk tidak jatuh. Paling tidak mata berkaca-kaca. Aku dan Bapak sama-sama berkaca-kacanya. “Maafkan anak mu ini Pak, selama ini aku pasti banyak melakukan kesalahan kepada bapak, belum dapat membanggakan dirimu, belum dapat memenuhi keinginanmu, dan sering menyakitimu.”

Permintaan maaf yang ternyata menjadi yang terakhir kepada Bapak…

Beribadah Bersama

3 Juli, 2008

Kapan kita terakhir beribadah bersama orang tua kita? Bila sedang tidak kerja, aku selalu sholat jumat bersama bapak di masjid dekat rumah. Tetapi selama di rumah, jarang sekali kami sholat berjamaah bersama. Entah karena aku yang malas, atau karena waktunya tidak bersamaan. Tetapi yang pasti, karena aku tidak pernah memintanya.

Mengapa pada saat-saat seperti ini, kita baru sadar, bahwa yang kita sayangi dan cintai begitu berharganya. Untuk yang dapat beribadah bersama dengan mereka yang dicintai, itulah saat yang paling indah. Percayalah, rasanya akan berbeda bila kita sendirian. Untuk yang belum memiliki waktu selama ini, cobalah untuk adakan niat untuk itu. Waktu pasti ada, hanya sering kali niat itu yang tidak pernah ada.

Sejak sakit awal Mei, Bapak tidak dapat sholat berdiri. Sudah tidak kuat. Saat sholat subuh, Bapak masih kuat sholat dalam keadaan duduk dengan menyandar ke lemari. Tetapi saat sholat Magrib dan Isya, pasti dalam keadaan berbaring. Sehingga sholat berjamaahnya pun dilakukan Bapak dalam keadaan berbaring. Terus terang, saat ini aku menjadi imam untuk sholat berjamaah dengan Bapak. Selama ini bila kami sholat berjamaah, Bapak selalu yang menjadi imam. Dan itu semua seingatku, terakhir saat aku masih SMP. Hampir 20 tahun yang lalu…

Waktu berlalu begitu saja. Waktu yang begitu berharga untuk dapat dekat dengan Alloh bersama mereka yang kita cintai. Seandainya waktu itu dapat diputar ulang…