Sejak pertama mendengar diagnosa bapak, bagitu banyak hal yang terpikirkan oleh ku. Apa saja yang belum pernah aku lakukan bersamanya, apa saja kesalahanku selama ini, dan sikapku selama ini kepadanya. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku memiliki hubungan yang sangat akrab dengan dirinya. Karena memang hubungan kami tidak pernah seakrab cerita dalam sinetron. Bapak orang yang tegas dan keras. Dan aku pun memiliki watak yang kurang lebih sama, sehingga dapat dibayangkan seringnya kami beradu argumentasi bahkan mengenai hal-hal yang kecil sekalipun. Dibalik itu semua, aku mengerti sekali bahwa bapak sangat mencintai keluarganya termasuk diriku. Akupun mencintai bapak,walau kadang kala aku menunjukkannya dengan cara yang lain.
Banyak rasanya salahku kepada bapak. Dari aku belum dapat memenuhi harapannya, seringnya aku melanggar nasihatnya, belum dapat ku balas jasanya, dan bahkan seringnya aku lebih memilih menonton film di kamar dari pada duduk di depan tivi bersamanya. Saat ini semua itu sudah tidak berarti.
Bila ku ingat, saat bapak mulai terlihat sakit di bulan Mei, keinginan utntuk meminta maaf kepada beliau selalu menghantuiku. Kata maaf itu sulit diucapkan tanpa meneteskan air mata. Sedangkan air mata itu yang tak ingin aku tunjukkan di depannya. Aku tak ingin ia melihat kami seperti tak ikhlas dengan cobaan dari Alloh.
Setelah sholat berjamaah dengan Bapak, ku kumpulkan semua tekad untuk mengatakannya. Sulit menahan air mata ini untuk tidak jatuh. Paling tidak mata berkaca-kaca. Aku dan Bapak sama-sama berkaca-kacanya. “Maafkan anak mu ini Pak, selama ini aku pasti banyak melakukan kesalahan kepada bapak, belum dapat membanggakan dirimu, belum dapat memenuhi keinginanmu, dan sering menyakitimu.”
Permintaan maaf yang ternyata menjadi yang terakhir kepada Bapak…