Saat aku menemani Bapak CT scan, aku berharap agar apa yang di dapat saat USG salah. Tak ada kanker, tak ada sirosis pada hatinya. Yang kami dapatkan adalah kanker yang hampir 75% dari hati dan sisanya hampir semuanya sirosis. Dokter mengatakan tak ada pilihan terapi lagi karena besarnya kanker dan tingginya SGOT-SGPT. Diusahakan agar SGOT-SGPT nya turun dahulu, baru dipikirkan rencana terapi untuk kankernya. Oleh karena itu Bapak harus One Day Care (ODC) dahulu, seminggu dua kali. Saat dokter mengatakan hal itu, hanya kami berdua. Ibu dan Bapak diminta menunggu di luar.
”Kok pake rahasia-rahasiaan? Kenapa, aku sudah mau mati ya?” tanya Bapak. ”Tidak pak, tadi dokternya menjelaskan bahwa Bapak harus ODC dulu baru diterapi kankernya.” jawabku dengan senyum yang aku usahakan tanpa mata yang berkaca-kaca. Pertanyaan yang aku yakin sering ditanyakan oleh mereka yang didiagnosa kanker. Jawaban yang terbaik? Menurutku adalah jawaban yang membangkitkan semangat, baik untuk mereka penderita, maupun keluarganya. Ada saatnya kita sebagai anak atau anggota keluarga harus mengambil tanggung jawab sebagai orang yang tangguh untuk mereka. Atau paling tidak yang terlihat tangguh.
Bila kedokteran modern sudah tidak memberikan harapan, pengobatan alternatif dapat dicoba. Tentu saja selama tidak berbau musyrik, setiap usaha untuk mendapatkan kesembuhan dari Alloh memiliki jalan yang berbeda-beda.
Harapannya agar pengobatan alternatif ini dapat membawa kesembuhan. Tidak terlalu muluk bila setiap usaha yang kita jalani, berharap mendapatkan hasil yang terbaik pula. Dan dalam kasus ini, kami berharap Bapak diberikan kesembuhan.
Berdoa jangan dilupakan. Sudah sifat manusia sepertinya, saat kita sedang ditimpa kesulitan, tiba-tiba saja rindu akan dekat dengan Sang Pencipta begitu besar. Tetapi bila sedang diberikan kesenangan, kita sering lupa kepada-Nya. Dari yag pernah aku dengar dari penceramah di kuliah subuh, Rasululloh lebih takut bila kita tidak lulus ujian berupa cobaan saat diberikan berkah, bukan saat diberikan musibah. Karena saat kita mendapatkan berkah, apakah kita ingat bahwa berkah dari-Nya itu juga adalah cobaan? Dan apakah kita dapat lulus dari ujian tersebut dengan menjaga amanahnya? Kalau aku berkaca, aku sering gagal saat diberikan ujian ini.
Mungkin dengan cobaan ini, Alloh mengharapkan agar kami lebih dekat dengan-Nya. Aku, ibu, dan mbakku harus lebih kuat dan khusyuk lagi dalam sholat dan doa kami. Juga jangan dilupakan untuk membantu Bapak melewati masa-masa ini dengan sholat dan doa yang lebih baik lagi. Pertanyaan ”Mengapa saya?” mungkin pernah Bapak tanyakan dalam hatinya. Kita harus membantu mereka yang kita cintai melewati pertanyaan itu dengan lebih mendekat kepada-Nya. Kembalikan bahagia dan sedihmu kepada Alloh.
Setelah berdoa, berusaha, dan berharap yang terbaik, tibalah pada tahapan yang tidak kalah pentingnya. Bersiap untuk yang terbaik. Pengertian yang terbaik mungkin berbeda antara kita dan Sang Pencipta dan Pemilik hidup ini. Kita pasti siap dengan kesembuhan. Karena itu pasti yang kita harapkan. Bagaimana kalau definisi yang terbaik itu benar-benar berbeda? Siapkah kita? Atau malah kita yang akan bertanya, ”Mengapa saya?”
Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik. Siapakah kita yang berani menentukan mana yang lebih baik selain dari kehendak-Nya? Siapakah kita bila berani mengatakan bahwa keputusan-Nya tidak adil untuk kita, saat kita berhadapan dengan Sang Maha Adil? Kita tak tahu apa adil itu, apa yang terbaik, karena kita hanya melihat dari sudut pandang kita. Saat Bapak mulai sakit, aku mencoba membayangkan bagaimana bila yang terbaik untuk Bapak adalah kembali kepada-Nya. Sedih dan air mata pasti terjadi, tetapi saat yang terbaik itu benar-benar terjadi, kita sudah lebih tegar. Karena kita sadar bahwa itu adalah memang yang terbaik untuk mereka yang kita cintai.
Dan Alloh memang memberikan yang terbaik untuk Bapak…